Pages

Selasa, 30 Maret 2010

PERIODISASI KEHIDUPAN PALING AWAL DI INDONESIA

PERIODISASI KEHIDUPAN PALING AWAL DI INDONESIA

Berdasarkan hasil-hasil kebudayaan yang ditinggalkan oleh masyarakat di kepulauan Nusantara sebelum mengenal tulisan, maka kehidupan masyarakat paling awal di Indonesia oleh para ahli di bagi menjadi dua zaman. Dua zaman tersebut yaitu:
A. Zaman Batu
• Zaman batu tua ( Paleolithikum)
• Zaman batu madya (Mesolithikum)
• Zaman batu muda ( Neolithikum)
• Zaman batu besar ( Megalithikum)
B. Zaman Logam
• Zaman tembaga
• Zaman perunggu
• Zaman besi
Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia tidak mengenal zaman tembaga. Demikian juga peninggalan zaman besi jumlahnya juga sangat sedikit dan waktunya bersamaan dengan zaman perunggu sehingga di Indonesia hanya mengenal zaman perunggu saja.

A. Zaman Batu
Zaman batu terdiri atas Jaman Batu Tua (Paleolithikum), Zaman Batu Madya (Mesolithikum), Zaman Batu Muda (Neolithikum) dan Zaman batu besar ( Megalithikum).
• Zaman batu tua ( Paleolithikum)
Alat-alat batu yang digunakan pada masa jaman Paleothikum masih sangat kasar karena teknik pembuatannya masih sangat sederhana. Alat-alat bantu ini dibuat dengan cara membenturkan antara batu yang satu dengan batu yang lainnya. Pecahan batu yang menyerupai bentuk kapak, mereka gunakan sebagai alat. Ada pula alat yang dipangkas dengan rapi sebelum digunakan.
Berdasarkan nama tempat penemuannya, hasil-hasil kebudayaan Zaman batu tua di Indonesia dibagi menjadi 2, yaitu kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandog.
Alat-alat yang terbuat dari batu yang masih kuat, berupa kapak genggam, yaitu kapak tidak bertangkai yang digunakan dengan cara menggenggam dan berfungsi untuk menggali umbi, memotong, dan menguliti binatang. Kapak perimbas (chopper) berfungsi untuk meribas kayu, memecah tulang, dan sebagai senjata. Alat-alat ini banyak ditemukan di daerah Pacitan, sehingga Ralph Von Koeningswald menyebutnya Kebudayaan Pacitan. Selain di Pacitan alat-alat tersebut juga ditemukan di Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), Lahat (Sumatera Selatan).
Pendukung kebudayaan Pacitan adalah Pithecanthropus erectus, dengan alas an sebagai berikut :
a) Alat-alat dari Pacitan pada lapisan yang sama dengan Pithecanthropus erectus, yaitu pada pleistosen tengah (lapisan dan fauna Trinil)
b) Di Chou-Kou-Tien, Cina ditemukan sejumlah fosil sejenis Pithecanthropus erectus, yaitu Sinanthropus pekinesis. Bersama fosil-fosil ini ditemukan alat-alat batu yang serupa dengan alat-alat batu dari Pacitan.
1. Alat-alat dari tulang dan tanduk binatang berupa alat penusuk (belati), ujung tombak dengan gergaji pada kedua sisinya, alat pengorek ubi dan keladi, tanduk menjangan yang diruncingkan, serta duri ikan pari yang digunakan sebagai mata tombak.
2. Alat serpih (flakes), terbuat dari batu yang bentuknya kecil, ada yang terbuat dari batu induk (kalsdon). Biasanya digunakan untuk mengiris daging atau memotong umbi-umbian dan buah-buahan.
Pendukung kedua kebudayaan ini adalah Homo Soloensis dan Homo Wajakensis, dengan alasan sebagai berikut,
a. Di Ngadirejo Sambung Macan Sragen ditemukan kapak genggam bersama tulang-tulang binatang dan atap tengkorak Homo Soloensis.
b. Alat-alat dari Ngandong berasal dari lapisan yang sama dengan Homo Wajakensis yaitu pleistosen atas.
Berdasarkan penemuan alat-alat paleolithik, dapat disimpulkan bahwa manusia purba pendukung Zaman batu tua hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan.
Manusia purba zaman batu tua hidup berpindah-pindah apabila hewan buruan dan umbi-umbian sudah berkurang di suatu tempat.
Bahasa sebagai komunikasi sudah mulai terbentuk pada Zaman tersebut melalui kata-kata disamping menggunakan tanda-tanda melalui gerakan badan.
Di Asia timur, termasuk Indonesia pada zaman batu tua belum ditemukan bukti-bukti adanya kepercayaan. Demikian pula penguburan mayat belum dilakukan oleh pithecanthropus.

create by anis

0 komentar:

Posting Komentar