Pages

Selasa, 30 Maret 2010

HUBUNGAN DASAR NEGARA DENGAN KONSTITUSI

HUBUNGAN DASAR NEGARA DENGAN KONSTITUSI


Dasar negara Indonesia adalah Pancasila. Dasar negara Pancasila merupakan pandangan bangsa Indonesia yang mengandung nilai-nilai luhur bangsa dalam menentukan konsep dasar dari cita-cita bangsa. Dengan demikian secara tidak langsung Pancasila mengikat bangsa Indonesia dalam praktik kenegaraan.
Berbeda dengan konstitusi. Konstitusi memuat bangunan negara dan sendi-sendi pemerintahan negara. Konstitusi bisa tertulis dan tidak tertulis. Konstitusi tertulis disebut Undang-Undang Dasar (UUD). Oleh karena itu konstitusi negara RI adalah UUD 1945.
Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, hubungan antar dasar negara dan konstitusi memiliki keterkaitan yang sangat erat sekali.

Keterkaitan itu memiliki sifat Filosofis, Yuridis, dan Sosiologi.

• Keterkaitan Secara Filosofis
Secara filosofis, konstitusi bangsa Indonesiaselalu didasarkan ada filosofifilosofi bangsa. Para pendiri negara Republik Indonesia yang arif dan bijaksana telah berhasil meletakkan dasar negara yang kokoh dan kuat, yaitu Pancasila. Pancasila digali dari bumi Indonesia sendiri dan mewariskan landasan konstitusional kepada bangsanya. Kemudian, pada tanggal 18 Agustus 1945 dalam siding Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
• Keterkaitan Secara Yuridis
Secara Yuridis, konstitusi negara RI mengandung pokok-pokok pikiran dasar negara yang diwujudkan dalam bentuk pasal-pasal konstitusi negara RI.
• Keterkaitan Secara Sosiologi
Secara sosiologis, konstitusi khendaknya dapat menampung seluruh nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat karena dasar negara merupakan prinsip-prinsip dasar dalam menjalankan kehidupan bernegara karena mengandung nilai-nilai luhur bangsa di suatu negara.

Dalam 3 UUD yang pernah berlaku di Indonesia, yaitu UUD 1945, Konstitusi RIS 1949, dan UUDS 1950. semua pembukaan atau mukadimahnya mencantumkan Pancasila. Tidak semua bangsa di suatu negara dapat merumuskan dasar negaranya secara jelas dan tegas dalam bagian pembukaan konstitusi seperti bangsa Indonesia.

Nilai-nilai Pancasila menjiwai Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang diuraikan secara terperinci dalam pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan dalam pasal-pasal UUD 1945.

Oleh karena itu, UUD 1945 yang memuat nilai dasar Pancasila dijadikan landasan konstitusi rakyat, dan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Hal tersebut harus diketahui dan dipahami serta dihayati oleh bangsa Indonesia.

PERIODISASI KEHIDUPAN PALING AWAL DI INDONESIA

PERIODISASI KEHIDUPAN PALING AWAL DI INDONESIA

Berdasarkan hasil-hasil kebudayaan yang ditinggalkan oleh masyarakat di kepulauan Nusantara sebelum mengenal tulisan, maka kehidupan masyarakat paling awal di Indonesia oleh para ahli di bagi menjadi dua zaman. Dua zaman tersebut yaitu:
A. Zaman Batu
• Zaman batu tua ( Paleolithikum)
• Zaman batu madya (Mesolithikum)
• Zaman batu muda ( Neolithikum)
• Zaman batu besar ( Megalithikum)
B. Zaman Logam
• Zaman tembaga
• Zaman perunggu
• Zaman besi
Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia tidak mengenal zaman tembaga. Demikian juga peninggalan zaman besi jumlahnya juga sangat sedikit dan waktunya bersamaan dengan zaman perunggu sehingga di Indonesia hanya mengenal zaman perunggu saja.

A. Zaman Batu
Zaman batu terdiri atas Jaman Batu Tua (Paleolithikum), Zaman Batu Madya (Mesolithikum), Zaman Batu Muda (Neolithikum) dan Zaman batu besar ( Megalithikum).
• Zaman batu tua ( Paleolithikum)
Alat-alat batu yang digunakan pada masa jaman Paleothikum masih sangat kasar karena teknik pembuatannya masih sangat sederhana. Alat-alat bantu ini dibuat dengan cara membenturkan antara batu yang satu dengan batu yang lainnya. Pecahan batu yang menyerupai bentuk kapak, mereka gunakan sebagai alat. Ada pula alat yang dipangkas dengan rapi sebelum digunakan.
Berdasarkan nama tempat penemuannya, hasil-hasil kebudayaan Zaman batu tua di Indonesia dibagi menjadi 2, yaitu kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandog.
Alat-alat yang terbuat dari batu yang masih kuat, berupa kapak genggam, yaitu kapak tidak bertangkai yang digunakan dengan cara menggenggam dan berfungsi untuk menggali umbi, memotong, dan menguliti binatang. Kapak perimbas (chopper) berfungsi untuk meribas kayu, memecah tulang, dan sebagai senjata. Alat-alat ini banyak ditemukan di daerah Pacitan, sehingga Ralph Von Koeningswald menyebutnya Kebudayaan Pacitan. Selain di Pacitan alat-alat tersebut juga ditemukan di Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), Lahat (Sumatera Selatan).
Pendukung kebudayaan Pacitan adalah Pithecanthropus erectus, dengan alas an sebagai berikut :
a) Alat-alat dari Pacitan pada lapisan yang sama dengan Pithecanthropus erectus, yaitu pada pleistosen tengah (lapisan dan fauna Trinil)
b) Di Chou-Kou-Tien, Cina ditemukan sejumlah fosil sejenis Pithecanthropus erectus, yaitu Sinanthropus pekinesis. Bersama fosil-fosil ini ditemukan alat-alat batu yang serupa dengan alat-alat batu dari Pacitan.
1. Alat-alat dari tulang dan tanduk binatang berupa alat penusuk (belati), ujung tombak dengan gergaji pada kedua sisinya, alat pengorek ubi dan keladi, tanduk menjangan yang diruncingkan, serta duri ikan pari yang digunakan sebagai mata tombak.
2. Alat serpih (flakes), terbuat dari batu yang bentuknya kecil, ada yang terbuat dari batu induk (kalsdon). Biasanya digunakan untuk mengiris daging atau memotong umbi-umbian dan buah-buahan.
Pendukung kedua kebudayaan ini adalah Homo Soloensis dan Homo Wajakensis, dengan alasan sebagai berikut,
a. Di Ngadirejo Sambung Macan Sragen ditemukan kapak genggam bersama tulang-tulang binatang dan atap tengkorak Homo Soloensis.
b. Alat-alat dari Ngandong berasal dari lapisan yang sama dengan Homo Wajakensis yaitu pleistosen atas.
Berdasarkan penemuan alat-alat paleolithik, dapat disimpulkan bahwa manusia purba pendukung Zaman batu tua hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan.
Manusia purba zaman batu tua hidup berpindah-pindah apabila hewan buruan dan umbi-umbian sudah berkurang di suatu tempat.
Bahasa sebagai komunikasi sudah mulai terbentuk pada Zaman tersebut melalui kata-kata disamping menggunakan tanda-tanda melalui gerakan badan.
Di Asia timur, termasuk Indonesia pada zaman batu tua belum ditemukan bukti-bukti adanya kepercayaan. Demikian pula penguburan mayat belum dilakukan oleh pithecanthropus.

create by anis